Saturday, November 27, 2010

Serakah Yang Membawa Berkah

Serakah, rakus, tamak adalah penyakit hati yang tidak patut dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Seseorang yang serakah akan berperilaku bengis, egois atau lebih mementingkan kepuasan diri sendiri, keluarga ataupun para sekutu-sekutunya dibandingkan dengan memperdulikan kemaslahatan umat.
Tak jarang dengan sifat serakahnya tersebut, berbagai cara yang tidak pantas pun ditempuh untuk mencapai tujuan yang diinginkan, tak peduli dengan cara apapun jua, ketentuan tentang halal-haram pun diterobos. Jika tidak bisa dengan cara halus/damai, jalur paksa pun ditempuh. Apabila menemui jalan buntu saat bernegosiasi, cara yang tidak  manusiawi pun tak segan-segan untuk dilakukan. Seperti yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kini, fenomena/budaya serakah menjalar dalam kehidupan. Hal ini menyebabkan tatanan hidup sosial tidak akan pernah berjalan harmonis. Yang kaya memeras yang miskin, yang kuat menindas yang lemah, yang pintar mengibuli yang bodoh, begitu seterusnya.
Yang paling berbahaya dari seseorang yang memiliki sifat serakah adalah dia pun akan menantang atau durhaka terhadap Allah SWT. Sebagai 'cermin' kita bisa berkaca pada keserakahan yang dimiliki Firaun terhadap kekuasaan, kedudukan, dan kemegahan, yang telah menyebabkannya hatinya buta dan tak segan segan untuk menindas rakyat jelata. Dan yang paling fenomenal adalah, keputusan firaun secara sepihak demi mempertahankan kedudukannya yang nyaman, yaitu dengan membunuh setiap anak laki-laki dari Bani isroil, karena khawatir kalau di kemudian hari, mereka akan merebut kekuasaanya yang berada dalam kendalinya.
Allah berfirman: "Dan (Ingatlah) ketika kami menyelamatkan kamu dari firaun dan pengikut-pengikutnya. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan cobaan besar dari Tuhanmu." (QS. 2:49). Sejatinya, tidak ada kebahagiaan yang dimiliki oleh orang serakah. Hati mereka terus diliputi kegelisahan karena mereka akan senantiasa merasa kekurangan. Pikiran mereka diliputi kekhawatiran akan pudarnya kekuasaan. Mungkin tampak dari luar atau segi fisik (materi) diliputi kesenangan, kemewahan dan disertai kedamain. Namun, apabila ditilik lebih jauh lagi, sebenarnya batin mereka senantiasa merasa galau dan jiwa mereka kering. Yang menjadi pertanyaan, adakah kebahagiaan bagi orang yang hatinya setiap saat diliputi kecemasan? Bukankah kebahagiaan itu sendiri bermuara dari ketenangan hati? Bila hati tenang, nyaman, bukankah seluruh permasalahan akan terasa lebih ringan? Adakah kebahagiaan lebih besar dari ketenangan jiwa (hati) ?
"Sungguh beruntung orang yang telah mensucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang telah mengotorinya."(QS.91, 9-10).
Bagi mereka yang jiwanya telah terjangkit keserahan, maka tunggulah kehancuran. Karena, sejatinya atas perbuatannya tersebut, secara otomatis mereka telah mengaktifkan bom waktu, yang sewaktu-waktu bisa meledak dan membinasakannya. Mengapa demikian? karena orang yang serakah acap kali menimbulkan kedholiman bagi orang lain. Tak bisa dipungkiri jika orang yang tersakiti tersebut, lambat laun akan menanti kesempatan untuk balas dendam. Dan jika waktu itu tiba, maka akan ditumpahkannyalah segala siksa batin yang selama ini dipendam.
Di lain pihak, Allah pun telah menjanjikan kehancuran hidup di dunia dan di akhirat bagi mereka yang berbuat serakah, dan semena-mena, semisal Fir’aun dan sejenisnya. Firman-Nya (lanjutan ayat di atas) “Maka Allah menghukumnya dengan adzab di akhirat dan siksaan di dunia.” (Q:S.79:25). Hemat kata, orang yang serakah, cepat atau lambat, pasti akan musnah, dan siksa api neraka telah menanti kedatangannya. Na’udzubullah tsumma na’udzubillah min dzalik.

Serakah yang dianjurkan!
Namun dibalik itu semua, tak seluruhnya keserakahan akan menggiring pelakunya kepada kemusnahan atau kecelakaan. Justru, adakalanya, dengan memiliki keserakahan yang begitu tinggi, orang tersebut akan menggapai kebahagiaan dan kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Wow....kapan hal itu terjadi?
Hal tersebut akan terwujud, ketika seseorang memiliki keserakahan/kerakusan dalam mengerjakan kebajikan, salah satunya adalah menuntut ilmu. Dalam salah satu sabdanya Rasulullah pernah menjelaskan, bahwa seseorang tidak akan pernah berhasil menuntut ilmu, kecuali dia memenuhi enam syarat, dan salah satunya adalah dia harus memiliki jiwa kirshun, yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki arti-salah satunya- rakus/serakah.
Sungguh dahsyat apabila sifat ini benar-benar dimiliki oleh para penuntut ilmu, karena otomatis dia akan gila-gilaan dalam "melahap" seluruh sajian ilmu yang dihadapkan padanya. Dia tidak akan pernah merasa puas. Ketika telah menguasai satu bidang ilmu, maka dia akan berusaha untuk mempelajari bidang ilmu yang lain dan begitu seterusnya. Karena bagi mereka ilmu adalah segala-galanya. Motto: "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat", seperti nya motto ini benar-benar merasuk dan terpatri dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, sehingga tidak mudah terkecoh dengan godaan - godaan di sekitarnya, hasilnya tidak ada waktu yang terbuang kecuali digunakan untuk belajar, belajar dan belajar.
Buah manis dari itu semua adalah orang tersebut akan menjadi orang yang 'alim lagi faqih dalam segala hal, terutama dalam masalah ilmu agama. Dengan demikian, dia akan berhati-hati dalam bertindak, sebab setiap langkah yang dia lakukan berbarometerkan ilmu.
Sebagaimana yang diutarakan oleh Syaidina 'Ali Karamullahu Wajhah, bahwa salah satu di antara yang membedakan ilmu dengan harta adalah jika ilmu itu menjaga pemiliknya, sedangkan harta harus dijaga. Subhanallah. Ketika ilmu itu menjelaskan sesuatu yang haram -misalnya-, maka ia akan menjauhi perkara tersebut sekalipun sangat menggiurkan hasratnya. Begitu pun sebaliknya, ketika ilmu menjelaskan bahwa hal tersebut halal, dia pun akan menjalankannya, sekalipun kebanyakan orang mencemoohnya.
Walhasil, orang tersebut akan merengguh kemuliaan dengan sendirinya, karena seluruh sendi-sendi kehidupannya berdasarkan pada ilmu. Rasululla pernah bersabda: “Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia, maka hendaknya dia meraihnya dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan di akhirat, maka gapailah ia dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki kedua-duanya, maka rengguhlah pula ia dengan ilmu." (Al-Hadits).
Pada tatanan inilah serakah akan berbuah keberkaha. Oleh karena itu, marilah kita memposisikan serakah pada posisi yang mampu mendatangkan keberkahan bagi diri kita masing-masing. Bukan sebaliknya, justru mendatangkan malapetaka ataupun kehancuran hidup, di dunia dan di akhirat. Berkah (barakah) sendiri - menurut pendapat para ulama- adalah 'zidatul khoir' (tambahnya kebaikan). Semoga kita termasuk didalamnya. Wallahualam bis-showab.